15 Sekolah di Tangerang Terpengaruh Banjir, Siswa Belajar Secara Daring
Table of content:
Baru-baru ini, banjir yang melanda Kabupaten Tangerang, Banten, menyebabkan banyak sekolah harus menutup kegiatan belajar mengajarnya. Kondisi ini memaksa pihak sekolah untuk beradaptasi dengan mengalihkan pembelajaran secara daring demi keselamatan siswa dan tenaga pengajar.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Agus Supriatna, mengungkapkan bahwa 15 sekolah tingkat SD dan SMP terpaksa diliburkan akibat dampak banjir yang parah, terutama di wilayah utara. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang harus dihadapi oleh komunitas pendidikan di daerah tersebut.
Penyebab dan Dampak Banjir di Kabupaten Tangerang
Banjir yang melanda Kabupaten Tangerang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dan sistem drainase yang tidak memadai. Banyak sungai meluap dan menggenangi pemukiman serta area sekolah, menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan.
Di antara sekolah-sekolah yang terkena dampak, terdapat 12 sekolah dasar dan tiga sekolah menengah pertama yang harus menghentikan kegiatan belajar secara tatap muka. Kejadian ini berakhir memberikan beban tambahan pada para guru dan siswa yang harus beradaptasi dengan cara belajar yang baru.
Pihak sekolah berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan pendidikan meski dalam situasi sulit. Dengan penerapan sistem pembelajaran daring, diharapkan siswa tetap dapat menerima materi pelajaran tanpa harus berisiko terpapar bahaya banjir.
Upaya Mitigasi Dampak Banjir untuk Sekolah
Agus Supriatna menegaskan pentingnya langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pembuatan lubang resapan biopori di sekitar area sekolah.
Lubang resapan ini dirancang untuk menyerap air hujan dan mengurangi genangan yang sering terjadi. Selain itu, normalisasi saluran air di sekolah-sekolah yang berada di lokasi rawan banjir juga akan dilakukan sebagai upaya jangka panjang.
Dengan melakukan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mencegah terjadinya banjir serupa di masa mendatang. Keselamatan siswa dan guru tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Peran Guru dalam Situasi Darurat Banjir
Selama masa banjir, para guru di sekolah-sekolah terdampak melakukan sistem kerja dari mana saja atau WFA. Hal ini memungkinkan para pengajar untuk tetap menjalankan tugas mereka tanpa harus hadir secara fisik di sekolah.
Pada saat yang sama, guru-guru juga diwajibkan untuk membuat jadwal piket guna memastikan sekolah tidak sepenuhnya kosong. Mereka tetap berkomunikasi dengan siswa melalui platform daring untuk memberikan bimbingan dan dukungan.
Keberadaan guru dalam situasi ini sangat penting, karena mereka dapat memberikan motivasi dan arahan kepada siswa yang mungkin merasa kehilangan rutinitas belajar mereka. Adaptasi ini menunjukkan betapa fleksibelnya sistem pendidikan dalam menghadapi tantangan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







