Banjir di Semarang Terdampak 38 Ribu Warga Lebih
Table of content:
Hujan deras yang melanda Kota Semarang beberapa waktu lalu telah menyebabkan dampak signifikan bagi warga. Ribuan rumah tergenang air, jalan raya menjadi tidak bisa dilalui, dan aktivitas sehari-hari masyarakat terganggu sepenuhnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang melaporkan bahwa sekitar 38.180 jiwa terdampak banjir ini. Dari jumlah itu, 4.265 jiwa berasal dari Kecamatan Genuk, sedangkan sisanya dari Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan.
Genangan air terjadi di berbagai lokasi seperti Bangetayu Kulon, Banjardowo, dan Gebangsari dengan ketinggian berbeda-beda, mulai dari 20 hingga 60 sentimeter. Di kawasan Jalan Nasional Kaligawe, arus lalu lintas terganggu karena genangan yang mencapai setengah meter.
Analisis Penyebab Banjir yang Melanda Semarang
Penyebab utama terjadinya genangan ini adalah sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air yang mengalir. Ditambah lagi, luapan dari Sungai Tenggang memperparah keadaan dan membuat banyak wilayah tak dapat diakses.
Ketinggian air juga merendam area-area sensitif, termasuk depan RSI Sultan Agung. Kondisi ini mengharuskan pihak rumah sakit untuk melakukan evakuasi terhadap sejumlah pasien demi keselamatan mereka.
Sampai dengan Jumat sore, tidak ada laporan mengenai pengungsi dari lokasi-lokasi terdampak. Meskipun air terus menggenang, warga masih bertahan di rumah masing-masing.
Pemerintah setempat bekerja keras melakukan penyedotan air yang sudah mulai menggenang. Di Rumah Pompa Tenggang, dua dari enam unit pompa sudah beroperasi, sedangkan empat lainnya masih dalam perbaikan.
Bantuan dari BPBD Jawa Tengah dan Pusdataru turut mempercepat proses penyedotan agar air dapat segera surut. Masyarakat pun diminta untuk tetap waspada selama kondisi cuaca yang belum sepenuhnya stabil.
Prediksi Cuaca dan Kesiapan Pemerintah Lokal
BMKG memperkirakan bahwa hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi akan berlanjut hingga awal bulan depan. Ini disebabkan oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby ekuatorial yang memengaruhi cuaca di wilayah tersebut.
Untuk mengatasi risiko lebih lanjut, BNPB telah menginstruksikan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bertujuan untuk mengalihkan curah hujan dari area-area yang telah terendam. Hal ini menjadi langkah yang dianggap penting untuk mencegah dampak yang lebih luas lagi.
Pesawat yang akan digunakan untuk operasi ini telah mendarat dan mempersiapkan berbagai bahan untuk semai awan. Sebanyak 10 ton natrium klorida dan 2 ton kalsium oksida sudah tersedia untuk proses ini.
Tujuannya bukan untuk menghentikan hujan sepenuhnya, melainkan agar hujan tidak menciptakan kondisi banjir di area yang sudah terkena dampak. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan solusi sementara sambil menunggu perbaikan sistem drainase di daerah tersebut.
Modifikasi cuaca menjadi bagian penting dalam rencana penanganan banjir, tetapi tidak berarti masalah banjir teratasi secara permanen. Diperlukan langkah-langkah lebih lanjut untuk memperbaiki infrastruktur yang ada.
Dampak Luas Banjir pada Wilayah Sekitar Semarang
Banjir juga melanda Kabupaten Grobogan yang berjarak tidak terlalu jauh dari Semarang. Sejak Selasa lalu, 21 Oktober, sebanyak 2.263 rumah di 28 desa terdampak, dengan genangan mencapai setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.
Lahan pertanian yang terendam juga termasuk dalam skala dampak, dengan 285 hektare lahan padi terenyuh air banjir. Di Kecamatan Gubug, tanggul Kali Tuntang jebol, yang menyebabkan perjalanan kereta api terganggu di jalur Jakarta-Surabaya.
BNPB telah mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di wilayah Grobogan. Upaya tersebut bertujuan untuk meminimalisir potensi curah hujan lebih lanjut yang dapat memperburuk keadaan.
Masyarakat setempat mendapat dukungan dari berbagai pihak yang ikut membantu proses pemulihan pasca-banjir. Dukungan ini mencakup tenaga medis, relawan, dan penyaluran bantuan logistik bagi warga yang membutuhkan.
Walaupun ada intervensi dari pemerintah, BNPB mengingatkan bahwa modifikasi cuaca bukanlah solusi permanen atas masalah banjir. Hal ini dicontohkan dengan perlunya perbaikan sistem drainase secara menyeluruh dan penguatan tanggul agar banjir tidak kembali terjadi di masa depan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









