Larangan Hukuman Fisik untuk Siswa Setelah Kasus Guru Menampar Murid
Table of content:
Gubernur Jawa Barat baru-baru ini mengeluarkan kebijakan yang menarik perhatian banyak pihak. Surat Edaran yang diterbitkan tersebut melarang penerapan hukuman fisik oleh guru di sekolah, menegaskan pentingnya pendekatan pengajaran yang mendidik.
Dalam konteks pendidikan, bentuk sanksi terhadap siswa harus memprioritaskan pembelajaran daripada kekerasan. Kebijakan ini muncul setelah adanya insiden antara orang tua siswa dan seorang guru di Kabupaten Subang yang menampar siswa sebagai bentuk hukuman.
Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa hukuman fisik berisiko hukum dan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang seharusnya. Ia menekankan bahwa tindakan mendidik lebih diprioritaskan, seperti memberi tugas yang positif dan menciptakan pengalaman belajar yang mengembangkan karakter siswa.
Kebijakan Larangan Hukuman Fisik di Sekolah Menggugah Diskusi
Langkah ini menuai reaksi beragam dari masyarakat, termasuk pendidik dan orang tua. Beberapa berpendapat bahwa tanpa hukuman fisik, disiplin siswa bisa menjadi sulit dicapai.
Sementara itu, banyak yang mendukung kebijakan ini karena sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang berfokus pada pengembangan karakter. Satu hal yang ditekankan adalah pentingnya menjadikan setiap interaksi sebagai momen pembelajaran.
Keputusan ini juga menjadi refleksi atas banyaknya kasus kekerasan dalam pendidikan yang terjadi. Hal ini mendesak pihak berwenang untuk mengevaluasi kembali metode pengajaran yang selama ini diterapkan di lapangan.
Pentingnya Pendekatan Edukatif dalam Menghadapi Masalah Siswa
Di dalam surat edaran tersebut, Dedi Mulyadi menggarisbawahi bahwa hukuman yang mendidik justru lebih efektif. Contohnya, siswa yang melakukan kesalahan dapat diberi tugas membersihkan area sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, juga menegaskan perubahan pendekatan dari hukuman ke pembinaan yang lebih membangun. Ia percaya bahwa pendidikan haruslah menjadi sarana yang menunjang perkembangan karakter siswa.
Dengan cara ini, pemerintah berharap dapat mengurangi insiden negatif yang melibatkan guru dan siswa. Pembinaan yang bersifat edukatif diharapkan bisa menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif.
Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak
Bukan hanya sekolah, peran orang tua juga sangat vital dalam proses pendidikan anak. Dengan adanya kolaborasi antara keluarga dan sekolah, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan karakternya.
Herman menekankan bahwa interaksi antara orang tua dan sekolah harus harmonis untuk menghasilkan siswa yang tidak hanya berprestasi, tapi juga berkarakter. Dalam era digital saat ini, pengaruh lingkungan sangat besar terhadap pembentukan karakter anak.
Jika metode pendidikan di kelas dan di rumah tidak sejalan, maka anak akan menerima pesan yang membingungkan. Oleh karena itu, perlu ada kesepahaman antara orang tua dan pengajar tentang nilai-nilai yang ingin diajarkan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







